Kemenangan Oposisi di Malaysia sejatinya adalah Reformasi yang tertunda

BJ HABIBIE-INDONESIA-MAHATHIR-ANWAR-MALAY
BJ Habibie dengan Mahathir & Anwar – reformasi malaysia

Kemenangan Pakatan Harapan adalah sejatinya adalah reformasi yang tertunda. Kenapa? Karena gejolak perpolitikan di malaysia mulai lahir sejak tahun 1998, tahun yang sama di mana ada krisis moneter di Indonesia. Di tahun yang sama pula, lahirlah gerakan reformasi di Indonesia, di mana pemerintahan Orde Baru yang berkuasa penuh selama 32 tahun tumbang setelah krisis moneter, kerusuhan dan pendudukan gedung MPR/DPR oleh gerakan mahasiswa. Rupa-rupanya kondisi yang sama juga sebenarnya terjadi di Malaysia, negara tetangga kita.

Saat krisis moneter terjadi pada tahun 1998, perseteruan Anwar Ibrahim-Mahathir Mohamad pecah. Salah satunya, Mahathir berang dengan seruan Anwar untuk reformasi dan penghentian korupsi dan nepotisme. Anwar Ibrahim, wakil perdana menteri saat itu, yang digadang-gadangkan menjadi the next succesor dari Mahathir Muhammad tersingkir karena seruan reformasinya. Bisa jadi Anwar Ibrahim sang politisi no.2 Malaysia ketika itu juga terinspirasi akan reformasi yang terjadi di Indonesia. Padahal secara logika, jelas Anwar yang mungkin sebentar lagi bisa menggantikan Mahathir cukup diam saja, toh dia akan meraih kekuasaan bila semua berjalan mulus. Namun, Ia tidak berdiam diri dan menerima apa adanya, Ia menyerukan reformasi atas kebobrokan yang ada dalam pemerintahannya sendiri bersama Mahathir.

Sebagian mencatat bahwa ketika krisis ekonomi mengancam Malaysia pada tahun 1998, Anwar menolak rencana Mahathir untuk melakukan sistem kurs tetap dalam mata uangnya, ringgit agar tidak terimbas krisis, suatu langkah yang sama yang pernah ditawarkan Prof Steve Hanke kepada Presiden Indonesia, Soeharto untuk menerapkan kebijakan kurs tetap. Setelah perselisihan ini dan tuduhan tudahan terhadap Anwar Ibrahim yang berujung diberhentikannya Anwar Ibrahim dari jabatannya, pada pertengahan 1998, Mahathir Mohamad menerapkan sistem kurs tetap. Posisi Anwar Ibrahim digantikan oleh Abdullah Badawi. (kutipan dari wikipedia)

Karena terlalu keras, ia disingkirkan dari Koalisi Barisan Nasional (UMNO dan partai lain) dan Pemerintahan, menjadi pesakitan dengan kejahatan keji dan memalukan yakni kasus sodomi. Anwar pun dipecat dan didakwa melakukan korupsi dan sodomi. Dalam peristiwa yang menggemparkan Malaysia dan menarik perhatian dunia, Anwar kala itu dibawa ke pengadilan dengan mata lebam karena dipukuli kepala kepolisian Malaysia saat itu.

Koalisi Barisan Nasional kala itu mirip seperti Orde Baru, Pemerintahan yang disokong 1 partai tunggal yang sangat kuat, menguasai segala aspek politik dan ekonomi mirip-mirip Partai Golkar-lah kala itu. Harapan Anwar Ibrahim untuk mereformasi malaysia dari dalam, gagal. Anwar pun divonis bersalah dan dipenjara sejak tahun 1999 sampai 2004.

Di saat yang sama di tahun 1999, tepat tanggal 4 April, Sejumlah LSM dan partai oposisi kemudian mendirikan Partai Keadilan Rakyat. PKR adalah sebuah partai oposisi hasil gabungan Partai Keadilan Nasional (KeADILan) dan Partai Rakyat Malaysia (PRM), diketuai oleh Istri Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail. Perjuangan untuk mereformasi Malaysia dari luar BN pun dimulai, dan dipimpin oleh istrinya sendiri yakni Wan Azizah Wan Ismail

Pada tanggal 2 September 2004, Anwar Ibrahim dibebaskan oleh Perdana Menteri Abdullah Badawi. Ia melanjutkan karier politiknya melalui Partai Keadilan Rakyat menjadi bagian kelompok oposisi Malaysia.

Harapan untuk mengalahkan Barisan Nasional dimulai dari General Election 10 “GE10”, Partai Keadilan Rakyat bersama beberapa partai oposisi membentuk Koalisi Barisan Alternatif sebagai oposisi versus Barisan Nasional. Hasilnya sudah dapat ditebak, pihak oposisi masih kalah jauh. Sulit untuk mengalahkan Partai berkuasa yang sudah eksis sejak negara ini berdiri tahun 1957. Berbeda dengan situasi di Indonesia, Euforia Reformasi1998 yang dilanjutkan dengan Pemilu demokratis pertama setelah reformasi di Indonesia langsung melahirkan Partai Pemenang baru yakni PDI Perjuangan yang dipimpin Ibu Megawati Soekarnoputri. Ibu Megawati dan PDIP tampil sebagai antitesa Golkar yang berkuasa sebelumnya. Bukan hanya PDIP yang meraih kejayaan, sejumlah partai-partai baru lahir dan segera menjadi pemain utama dalam perpolitikan nasional, seperti PAN, PKB dan PK.

Hasil General Election Malaysia sejak Anwar Ibrahim keluar dari pemerintahan membentuk kekuatan oposisi :

  • General Election 10, tahun 1999, Barisan Nasional(BN) 148kursi, Oposisi-Barisan Alternatif(BA), 45kursi.
  • General Election 11, tahun 2004, Barisan Nasional(BN) 198kursi, Oposisi-Barisan Alternatif(BA), 8kursi, DAP 12kursi.
  • General Election 12, tahun 2008, Barisan Nasional(BN) 140kursi, Oposisi-Pakatan Rakyat(PR), 82kursi.
  • General Election 13, tahun 2013, Barisan Nasional(BN) 133kursi, Oposisi-Pakatan Rakyat(PR), 89kursi. (Popular vote dimenangkan PR)
  • General Election 14, tahun 2018, Barisan Nasional(BN) 79kursi, Oposisi-Pakatan Harapan(PA), 143kursi.

Menariknya di sini, Setiap mendekati/sesudah General Election, Anwar Ibrahim selalu berada di penjara. Pertama kali anwar divonis penjara tahun 1999, sebelum GE 10. kemudian dibebaskan tahun 2004 , sesudah GE11. Kemudian tahun 2008, ketika berlangsung GE 12, Ia dipenjara lagi karena tuduhan kasus sodomi. Lalu pada tahun 2012 ia dibebaskan oleh hakim setelah banding, namun tahun 2014 sesudah GE13, Ia dipenjara lagi hingga 5 tahun ke depan dan masih untuk kasus yang sama karena giliran pihak pemerintah yang banding.  Bahkan di GE14 yang berlangsung tahun 2018, Anwar Ibrahim pun baru akan dibebaskan setelah pemilu. Beliau pun masih tidak bisa mencalonkan diri sebagai PM.

Namun perlahan-lahan, perolehan kursi Oposisi mulai dari koalisi Barisan Alternatif sampai berganti menjadi Pakatan Harapan mulai merangkak naik. Trend positif ini sudah diprediksi banyak pihak, cepat atau lambat BN akan runtuh. Di GE13, Pakatan Rakyat berhasil meraih kemenangan dari sisi Popular Votes (mayoritas suara perorangan), prestasi yang mulai mengancam Barisan Nasional. Tidak heran banyak pihak sempat curiga, bila Anwar ibrahim yang dipenjara tahun 2014 erat kaitannya dengan hasil election yang tidak menggembirakan partai penguasa.

Namun pada GE14 tahun 2018 kali ini ada keajaiban besar, yaitu PM terdahulu yang berselisih dengannya, Mahathir Mohamad menggabungkan dirinya dengan oposisi – Pakatan Harapan. Ia pun bersatu kembali dengan kawan lamanya, Anwar Ibrahim untuk bersama-sama meruntuhkan Barisan Nasional.

Mahathir Mohamad yang keluar dari UMNO dan Barisan Nasional tahun 2016 dan kemudian pada tahun yang sama mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) dan menempatkan diri sebagai partai oposisi melawan Barisan Nasional walau masih terpisah dengan Pakatan Rakyat. Namun pada tanggal 8 Januari 2018, Mahathir dinyatakan sebagai calon Perdana Menteri mewakili Pakatan Harapan pada pemilu 2018. Karena partainya PPBM tidak dapat mengikuti pemilu dengan logo sendiri, sehingga Ia menggabungkan diri dengan Koalisi baru yakni Pakatan Harapan.

Pada Akhirnya di General Election ke-14, tanggal 9 mei 2018 kemarin, Oposisi berhasil meraih mayoritas kursi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah malaysia, Pihak Oposisi menang dan kekuasaan berpindah ke Pakatan Harapan. Kemenangan ini juga terbantu karena isu besar mengenai korupsi 1MDB di tampuk kepemimpinan PM Najib Razak dan kondisi ekonomi Malaysia yang sedang tidak bagus dimana rakyat banyak mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang mahal.

Mahathir Mohamad Pada usia 92 tahun kemudian menjadi Perdana Menteri Malaysia ke-7 dan sekaligus kepala negara atau pemerintahan tertua di dunia. Beliau berencana mengampuni Anwar Ibrahim dan menyerahkan kekuasaan ke Anwar setelah dua tahun.


Nah bila kita melihat ke belakang, sungguh sulitnya perjuangan Oposisi Malaysia ini. Bayangkan mereka butuh hingga 5 kali pemilihan umum dari tahun 1999 sampai 2018, 20tahun lamanya untuk sampai berhasil mengalahkan pemerintahan yang berkuasa. Bandingkan dengan Indonesia yang begitu cepat melakukan reformasi dari tahun 1998 dan beralih secara demokratis setahun setelahnya di Pemilu 1999. Bahkan di Pemilu 2004 berikutnya, Partai Pemenang sudah beda lagi (Partai Demokrat). Demokrasi di Indonesia berjalan dinamis dan cepat. Berbeda dengan kondisi Malaysia yang berjalan lambat.


Bahkan uniknya lagi, kemenangan Oposisi itu sedikit banyak terbantu dari Faktor Mahathir Muhammad yang menjadi Calon PM-nya oposisi. Hal ini sungguh membingungkan, karena sejatinya Mahathir Mohamad dulunya adalah bagian dari Barisan Nasional yang dahulu di tahun 1999 ingin dikalahkan oleh oposisi. Agenda Reformasi yang dipelopori Anwar Ibrahim adalah antitesa dari Pemerintah Mahathir yang berkuasa ketika itu.

Kalau dipandang dari kacamata sejarah dan politik Indonesia. Ini sama halnya membutuhkan Figur/Tokoh dari Orba untuk meruntuhkan Orba? sesuatu yang aneh dan tidak lazim.

Namun setelah ditelaah tidak juga demikian, sedikit banyak agenda reformasi tahun 1998 di Indonesia juga dapat berjalan maksimal karena peranan Presiden ke-3 Indonesia, Bapak BJ Habibie yang membuka peluang berjalannya pemilu demokratis tahun 1999. Peralihan kekuasaan secara reformis dan terbuka berhasil dijalankan dengan baik oleh Beliau. Padahal sejatinya beliau adalah bagian dari Orba yang merupakan Wapres Bapak Presiden ke-2 H.M.Soeharto, dimana beliau pun mendapatkan peralihan kekuasaan dari Presiden sebelumnya secara damai. Kemudian beliau pun dengan rendah hati dan kerelaannya menyerahkan kelanjutan kekuasaan secara demokratis dan damai dengan Presiden hasil Pemilu 1999 yaitu Kyai Haji Abdurahman Wahid. Padahal beliau bisa saja memilih untuk mencalonkan diri kembali dan mengkonsolidasikan kekuatan politik untuk meneruskan Orba berjaya kembali, namun kita tahu, itu sama sekali tidak dilakukannnya.

Maka tampilnya kembali Mahathir Mohamad sebagai bagian dari Orba versi malaysia (BN) untuk membantu proses reformasi dan proses peralihan kekuasaan ke oposisi adalah mirip-mirip sebelas dua belas dengan Indonesia. bahkan kalau mau jujur, Anwar Ibrahim sebagai Figur utama/sentral Oposisi Malaysia pun bagian dari Pemerintahan Barisan Nasional sebelumnya.


Pada Akhirnya agenda reformasi tidak bisa dijalankan hanya dengan gerakan generasi muda dan tokoh-tokoh baru. Agenda reformasi ternyata memang harus dijalankan oleh bantuan generasi muda dan juga dukungan dari generasi tua alias tokoh-tokoh sebelumnya yang berbalik dari rezim lama dan menerima amanat rakyat untuk pembaharuan, mengamininya dan membantu generasi muda untuk mempersiapkan peralihan kekuasaan yang demokratis.


Maka hormatilah generasi tua seperti contoh Presiden ke-3 Indonesia, Pak Bacharuddin Jusuf Habibie dan Mahathir Mohamad, Perdana Menteri ke-7 Malaysia. Mereka adalah contoh figur tua yang menyokong figur-figur muda untuk menerima amanat reformasi dan membantu proses peralihan tersebut.

Indonesia dan Malaysia jaya selalu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s